Senin, 13 April 2026

Menakar Peran Strategis Polri dalam Ketahanan Pangan di Era Hexahelix Governance

Oleh: Pathurrahman (Akademisi Ilmu Politik-Pemerintahan FISIP ULM).


KETAHANAN pangan tidak lagi semata soal produksi beras atau luas lahan pertanian. Lebih dari itu, hal ini menjadi isu strategis yang menentukan stabilitas ekonomi, ketahanan nasional, bahkan legitimasi negara. 

Dalam konteks ini, pertanyaannya bukan lagi “siapa yang berwenang”, melainkan “siapa yang mampu memastikan sistem bekerja”.

Di titik inilah, peran Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menjadi relevan untuk ditinjau ulang.

Selama ini, keterlibatan Polri dalam pembangunan kerap ditempatkan secara sempit sebagai penjaga keamanan dan ketertiban. Padahal, secara konseptual, Polri merupakan bagian integral dari negara yang semestinya turut menjadi aktor dalam tata kelola kebijakan publik. Reduksi peran ini membuat kontribusi Polri dalam pembangunan, termasuk dalam sektor strategis seperti pangan sering kali terabaikan.

Pendekatan ini mulai bergeser dalam agenda ketahanan pangan nasional pemerintahan Prabowo-Gibran melalui Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029. 

Pemerintah tidak lagi bertumpu pada model “government” yang hierarkis, melainkan mengadopsi pendekatan “governance” yang kolaboratif melalui skema hexahelix. Dalam model ini, negara, swasta, akademisi, masyarakat, media, dan termasuk institusi keamanan, diposisikan sebagai aktor yang saling melengkapi.

Pendekatan hexahelix membuka ruang baru bagi Polri untuk berkontribusi lebih jauh, tidak hanya sebagai penjaga stabilitas, tetapi juga sebagai enabler dalam memastikan kebijakan berjalan efektif.

Hal ini menjadi krusial, mengingat ketahanan pangan saat ini berada dalam tekanan global—mulai dari ancaman krisis pangan, disrupsi rantai pasok, hingga fluktuasi harga komoditas. Dalam situasi seperti ini, kebijakan pangan tidak bisa hanya bertumpu pada perencanaan teknokratis, tetapi membutuhkan dukungan stabilitas sosial dan keamanan yang kuat.

Kita tidak bisa menafikan bahwa keberhasilan kebijakan publik sangat ditentukan oleh kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat. Tanpa stabilitas, sebaik apa pun desain kebijakan, implementasinya akan rapuh.

Di sinilah Polri memiliki keunggulan yang tidak dimiliki aktor lain. Dengan kapasitas deteksi dini, penegakan hukum, serta jaringan hingga tingkat desa melalui Bhabinkamtibmas, Polri mampu menjangkau aspek-aspek yang sering luput dari pendekatan administratif semata.

Dalam perspektif collaborative governance, sebagaimana dikemukakan Ansell dan Gash (2008), keberhasilan kolaborasi tidak hanya ditentukan oleh banyaknya aktor, tetapi oleh kapasitas institusional dalam memfasilitasi tindakan kolektif. Polri, dalam hal ini, memiliki kapasitas tersebut, terutama dalam menjaga stabilitas sistem agar kolaborasi dapat berjalan.

Realitas di lapangan menunjukkan bahwa sektor pangan bukanlah ruang yang steril dari kepentingan dan distorsi. Praktik mafia distribusi, penimbunan pupuk bersubsidi, manipulasi harga, hingga penyelundupan komoditas merupakan ancaman nyata yang dapat merusak keseluruhan ekosistem pangan.

Tanpa intervensi aktor yang memiliki kewenangan koersif sekaligus legitimasi sosial, masalah-masalah tersebut sulit diatasi.

Karena itu, keterlibatan Polri dalam kebijakan ketahanan pangan tidak boleh hanya dipahami sebagai fungsi penegakan hukum. Lebih dari itu, Polri harus diposisikan sebagai bagian dari siklus kebijakan, mulai dari formulasi, implementasi, hingga evaluasi.

Pada tahap formulasi, kontribusi Polri dapat hadir melalui analisis intelijen dan pemetaan risiko. Pada tahap implementasi, Polri berperan sebagai pengawal stabilitas sekaligus fasilitator, misalnya melalui Satgas Ketahanan Pangan dan program Polisi Penggerak Ketahanan Pangan. Bahkan, pada tahap ini Polri juga berhasil menunjukkan kemampuannya dalam membangun kolaborasi yang efektif antar aktor-aktor untuk mengatasi tantangan di lapangan serta mendorong inovasi yang berkemajuan. Sebagaimana pengalaman Polda Kalsel yang membangun kolaborasi dengan Universitas Lambung Mangkurat dalam program penanaman jagung, dimana Kalimantan Selatan menjadi satu-satunya daerah di Indonesia yang berhasil menanam dan memanen jagung di lahan basah tidak produktif.

Lebih jauh, kehadiran Polri terbukti mampu menjaga stabilitas harga di tingkat petani, seperti yang terjadi di Kalimantan Selatan dan Jawa Barat. Intervensi ini bukan sekadar penegakan hukum, tetapi bentuk perlindungan terhadap ekosistem produksi pangan. 

Dari sisi sumber daya, Polri juga memiliki keunggulan logistik dan teknologi yang dapat mendukung distribusi pangan, terutama di wilayah sulit dijangkau. Pengalaman dalam penanganan bencana menunjukkan bahwa Polri mampu bergerak cepat ketika sistem distribusi sipil mengalami hambatan.

Di tahap evaluasi, pemanfaatan big data oleh Polri membuka peluang baru dalam pengambilan kebijakan berbasis data. Informasi terkait produksi, distribusi, hingga serapan pangan dapat menjadi basis evaluasi yang lebih akurat dan responsif.

Namun demikian, perlu ditegaskan bahwa pelibatan Polri dalam tata kelola pangan bukan tanpa batas. Keterlibatan ini harus tetap berada dalam koridor governance yang akuntabel dan proporsional, agar tidak menimbulkan tumpang tindih kewenangan atau dominasi berlebihan dalam ruang sipil.

Di sinilah pentingnya desain kolaborasi yang jelas, yakni setiap aktor hadir bukan untuk menggantikan, tetapi untuk melengkapi.

Ketahanan pangan pada akhirnya bukan hanya soal kebijakan yang baik, melainkan bagaimana memastikan kebijakan tersebut bekerja di lapangan. Dalam sistem yang kompleks, tidak ada satu aktor pun yang bisa bekerja sendiri.

Sebagaimana diingatkan Woodhouse (2022), publik pada akhirnya tidak menilai siapa yang mengelola kebijakan, melainkan apakah kebijakan itu berhasil atau tidak.

Dalam konteks ini, memasukkan Polri sebagai bagian dari hexahelix bukanlah perluasan peran yang berlebihan, melainkan kebutuhan.

Karena tanpa stabilitas, ketahanan pangan hanya akan menjadi ambisi di atas kertas.

Sabtu, 07 Februari 2026

Polri Fasilitasi Permodalan KUR dan Penyerapan Bulog bagi Petani Jagung

Jakarta - Polri menggelar rapat koordinasi bersama Kementan, Perum Bulog, BPK, Asosiasi Pabrik Pakan Ternak dan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dalam rangka memperkuat ketahanan pangan nasional melalui ekosistem pertanian jagung pakan ternak. Upaya ini untuk mengawal proses produksi jagung dan memastikan kesejahteraan petani binaan Polri.

Rakor yang diselenggarakan di Mabes Polri ini juga diikuti oleh seluruh gugus tugas Polda se-Indonesia secara daring. Rakor dipimpin Karobinkar SSDM Polri selalu wakil posko gugus tugas ketahanan Pangan, Brigjen Langgeng Purnomo.


"Kami melaksanakan analisa dan evaluasi hasil kinerja tahun sebelumnya, Indonesia berhasil tanpa Impor jagung pabrik pakan ternak pada tahun 2025 sehingga Rakor ini kami laksanakan untuk konsolidasi dan kolaborasi menjalankan strategi ke depan tahun 2026 menjadi lebih baik lagi," ujar Brigjen Langgeng dalam keterangan yang diterima, Jumat (6/2/2026).


Di sisi hulu, Polri hadir sebagai jembatan bagi Poktan jagung dalam mengatasi kendala permodalan. Melalui skema pembiayaan melibatkan Himbara, Polri memfasilitasi akses Poktan ke perbankan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR).


Salah satu implementasi dilakukan di wilayah Polda Jawa Barat, tepatnya di Nagreg dan Ciamis, di mana petani mendapatkan kredit modal untuk kembali menanam dan memperluas lahan pertanian jagung.


Senior vice president BRI, Danang Andi Wijanarko, dalam paparannya mewakili dari Himbara menyampaikan bahwa BRI pada tahun 2026 sudah menyiapkan plafond senilai Rp 180 triliun untuk pembiayaan KUR Mikro di bidang pertanian termasuk ekosistem pertanian Jagung.


Tidak hanya urusan modal, Polri melalui Gugus Tugas Ketahanan Pangan juga memberikan perlindungan kepada petani dengan menjaga stabilitas harga. Polri memastikan hasil panen petani tidak terjebak dijual ke tengkulak dengan harga rendah. Sebagai solusinya, Polri menjalin kerja sama dengan Perum Bulog untuk menyerap hasil panen dengan harga lebih baik.


Pelaksanaan pengadaan jagung tahun 2026 oleh Bulog didasarkan pada Surat dinas Internal nomor SDI-217/DU000/PD.02.01/12012026 tanggal 12 Januari 2026 tentang pengadaan Jagung dengan target 1 juta ton untuk Cadangan pangan pemerintah tahun 2026 dengan harga Rp 6.400 per kilogram.


"Fokus kami adalah menjaga agar harga jagung di tingkat petani minimal sesuai dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Di beberapa wilayah, seperti di Jabar dan di Kalsel, kolaborasi ini mendorong pembelian harga yang berpihak ke petani jagung, yakni mencapai Rp 6.400 per kg sesuai standar HPP Bulog," kata Brigjen Langgeng Purnomo.


Program ini bertujuan untuk mengembangkan lahan tidur, membebaskan petani dari jebakan tengkulak dan meningkatkan produksi jagung nasional. Dengan pendampingan manajerial yang tepat, diharapkan petani mampu membayar pinjaman modal tepat waktu dan meningkatkan taraf hidup mereka secara berkelanjutan.


Melalui rapat koordinasi program ketahanan pangan tahun 2026, Polri berharap dapat memperkuat ekosistem pertanian jagung pakan ternak dan mensejahterakan petani jagung Indonesia.

Rabu, 29 Oktober 2025

Kapolri Pimpin Sertijab Sejumlah Pejabat Tinggi Polri, Tegaskan Komitmen Penguatan Kinerja dan Regenerasi Kepemimpinan


Jakarta – Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si., memimpin upacara serah terima jabatan (sertijab) sejumlah pejabat tinggi (Pati) dan menengah (Pamen) Polri di Rupattama Mabes Polri, Jakarta, Rabu (29/10/2025). Sertijab ini merupakan bagian dari proses regenerasi dan penyegaran organisasi guna memperkuat efektivitas pelaksanaan tugas di berbagai satuan kerja maupun kewilayahan.

Adapun pejabat yang melaksanakan sertijab hari ini antara lain:

1. Irjen Pol. Helmi Santika, S.H., S.I.K., M.Si., menyerahkan jabatan Kapolda Lampung;

2. Irjen Pol. Helfi Assegaf, S.I.K., M.H. (Dirtipideksus Bareskrim Polri) dilantik menjadi Kapolda Lampung;

3. Irjen Pol. Drs. Rusdi Hartono, M.Si., menyerahkan jabatan Kapolda Sulawesi Selatan;

4. Irjen Pol. Djuhandhani Rahardjo, S.H., M.H. (Dirtipidum Bareskrim Polri) dilantik menjadi Kapolda Sulsel;

5. Irjen Pol. Drs. Hendro Pandowo, M.Si., menyerahkan jabatan Kapolda Kepulauan Bangka Belitung;

6. Irjen Pol. Dr. Viktor Theodorus Sihombing, S.I.K., M.Si., M.H., menyerahkan jabatan Kadivkum Polri dan dilantik menjadi Kapolda Kep. Babel;

7. Irjen Pol. Dr. Agus Nugroho, S.I.K., S.H., M.H., menyerahkan jabatan Kapolda Sulawesi Tengah dan dilantik menjadi Kadivkum Polri;

8. Irjen Pol. Endi Sutendi, S.I.K., S.H., M.H. (Waastamaops Kapolri) dilantik menjadi Kapolda Sulawesi Tengah;

9. Brigjen Pol. Nanang Chadarusman, S.I.K., M.H., menyerahkan jabatan Kasetum Polri;

10. Kombes Pol. Emi Sumijati, S.H. (Psikolog Kepolisian Madya Tk I SSDM Polri) dilantik menjadi Kasetum Polri.

Karo Penmas Divhumas Polri Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko, S.I.K., menjelaskan bahwa mutasi dan sertijab di tubuh Polri merupakan bagian dari mekanisme pembinaan karier yang terencana dan berkelanjutan.

“Rotasi dan promosi jabatan ini adalah bentuk penyegaran organisasi sekaligus bagian dari komitmen Kapolri dalam memperkuat soliditas, profesionalisme, dan efektivitas kinerja Polri di seluruh lini,” ujar Brigjen Pol. Trunoyudo.

Ia menambahkan, dinamika jabatan ini juga menjadi upaya untuk memberikan ruang regenerasi kepemimpinan yang mampu menyesuaikan dengan tantangan tugas kepolisian di era modern.

“Setiap pejabat yang dipercaya menduduki jabatan baru diharapkan dapat langsung beradaptasi dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, sesuai dengan semangat Presisi yang menjadi pedoman utama Polri,” tegasnya.

Upacara sertijab berlangsung khidmat dan dihadiri oleh para pejabat utama Mabes Polri serta keluarga besar Polri. Momentum ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam menjaga kesinambungan kepemimpinan serta meningkatkan kualitas pelayanan Polri kepada masyarakat.

Rabu, 24 September 2025

Tanam Jagung Tahap II di Lahan Binaan Bidpropam Polda Kalsel

 

Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan (Polda Kalsel) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung program ketahanan pangan nasional tahun 2025. Melalui Bidang Pembinaan Profesi dan Pengamanan (Bidpropam) Polda Kalsel dibawah kepemimpinan Kabid Propam Polda Kalsel Kombes Pol Hery Purnomo, S.I.K. digelar kegiatan Penanaman Jagung Tahap II di lahan binaan yang terletak di Jalan Gang Mawar, Desa Panggung, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut (Tala), pada Rabu (24/9/2025) pagi.


Kegiatan yang dimulai pukul 10.00 WITA ini merupakan kelanjutan dari program tahap pertama yang telah sukses dilaksanakan sebelumnya. Penanaman serentak ini dihadiri oleh Wakapolda Kalsel, Karo SDM Polda Kalsel, Dir Samapta Polda Kalsel, Kabid Propam Polda Kalsel, AKM II Itwasda Polda Kalsel, Kapolres Tala, Asisten II Pemkab Tala, dan Danramil Kintab, jajaran Bidpropam Polda Kalsel,, serta kelompok tani setempat.


Kabid Humas Polda Kalsel Kombes Pol Adam Erwindi, S.I.K., M.H. mengatakan, dalam keterangannya Wakapolda Kalsel Brigjen Pol Dr. Golkar Pangarso Rahardjo Winarsadi, S.H., S.I.K., M.H. menyampaikan bahwa penanaman ini merupakan dukungan dari program Asta Cita Pemerintah dalam Ketahanan Pangan.


"Dilahan seluas 57 hektare ini, ditanam jagung. Komuniti jagung dipilih karena kebutuhan jagung di Kalimantan Selatan masih kurang, khusus jagung lokal yang masih dibawah 20%," tutur Wakapolda.


Beliau menerangkan, secara nasional targetnya adalah 1 juta hektare, dengan hasil produksi jagung sebanyak 4 juta ton. Sedangkan target di Kalimantan Selatan adalah 5.000 hektare.


Wakapolda berharap, upaya yang dilakukan Polda Kalsel ini dapat meningkatkan produktivitas dan prodak komoditas jagung yang mendorong kepada kesejahteraan masyarakat.


"Tugas polisi bukan hanya keamanan, namun juga kesejahteraan, karena kesejahteraan berdampak pada keamanan. Dan pemolisian kedepan lebih mengedepankan tindakan yang bersifat pencegahan," terang Wakapolda Kalsel.


Sementara itu dalam sambutannya, Kabid Propam Polda Kalsel Kombes Pol Hery Purnomo menyampaikan bahwa total lahan binaan Bidpropam Polda Kalsel yang berada di kawasan Gunung Khayangan ini mencapai 57 hektare. 


“Pada penanaman tahap pertama, kita sudah berhasil memanen jagung seluas 57 hektar dengan hasil sekitar 160 ton. Alhamdulillah, hasil ini sangat membanggakan dan menjadi semangat bagi kita semua untuk melanjutkan penanaman tahap kedua,” ujarnya.

Minggu, 21 September 2025

Polsek Awayan Grebek Pesta Tuak, Lanjut Amankan Penjual di Desa Ju’uh dengan 60 Liter Barang Bukti


RadarBanjarmasin.online, BALANGAN - Setelah mengamankan delapan orang yang berpesta miras di Kantor Balai Penyuluh KB Kecamatan Tebing Tinggi, Polsek Awayan kembali bergerak cepat dengan melakukan penggerebekan terhadap penjual tuak di Desa Ju’uh. Dari lokasi ini, polisi menyita sekitar 60 liter minuman keras tradisional, Jumat (19/09/2025)

Kapolsek Awayan, IPDA Lulus Pribadi, mengungkapkan bahwa operasi lanjutan ini dilakukan berdasarkan hasil pengembangan dari penggerebekan sebelumnya. 

“Dari keterangan para pelaku yang kami amankan, diketahui asal minuman tuak yang mereka konsumsi. Informasi itu langsung kami tindak lanjuti ke Desa Ju’uh,” jelasnya.

Setibanya di lokasi, petugas mendapati seorang warga yang diduga menjadi penjual tuak. Dari rumahnya, polisi menemukan dua j jerigen berisi tuak siap edar. 

“Total yang berhasil diamankan kurang lebih 60 liter tuak. Barang bukti itu langsung kami bawa ke Polsek untuk diamankan,” kata Kapolsek.

Pelaku penjual tuak kini masih dalam pemeriksaan intensif di Polsek Awayan. Menurut Kapolsek, pihaknya akan menindak sesuai ketentuan yang berlaku. 

“Kami akan proses sesuai aturan hukum, termasuk kemungkinan sanksi pidana ringan maupun administratif sesuai perda,” tambahnya.

Kapolsek juga mengingatkan masyarakat untuk tidak lagi memproduksi maupun menjual miras tradisional. Menurutnya, konsumsi tuak kerap menjadi pemicu berbagai tindak kriminal maupun gangguan keamanan. 

“Kami ingin menjaga generasi muda dari dampak buruk minuman beralkohol. Karena itu, kami tidak akan memberi ruang bagi peredaran miras di wilayah hukum Polsek Awayan,” pungkas IPDA Lulus.

Selasa, 16 September 2025

Kapolres Balangan Bagikan Bantuan Sosial Kepada Warga Desa Liyu

 


Polres Balangan, Polda Kalsel -  Suasana bahagia dan hangat dirasakan warga desa Liyu, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan saat Kapolres Balangan, AKBP Dr. Yulianor Abdi, S.H.,S.I.K.,M.H., mengunjungi Balai Adat Dayak Deah yang didampingi Ketua Bhayangkari Cabang Balangan Ny. Vina Yulianor Abdi bersama PJU Polres Balangan dan Bhayangkari Balangan, Selasa (16/09/2025).

Rombongan disambut oleh Camat Halong Bapak Rahmadi, Kepala Desa Liyu, Aparat Desa Liyu dan Tokoh Adat Dayak Deah serta masyarakat desa Liyu.

Kunjungan ini bertujuan untuk memberikan bingkisan bantuan sosial kepada masyarakat Desa Liyu yang membutuhkan pada rangkaian kegiatan kunjungan kerja Kapolres Balangan Ke Polsek - Polsek yang ada di Kabupaten Balangan.

Kehadiran Kapolres Balangan bersama rombongan merupakan wujud nyata Kepedulian Polres Balangan terhadap situasi masyarakat di Kabupaten Balangan serta ingin bertatap muka langsung dengan masyarakat.

Di kesempatan ini, Polres Balangan memberikan 20 Paket Bantuan Sosial berisi Sembako Kepada Masyarakat Desa Liyu yang dianggap layak mendapatkan uluran bantuan.

Kapolres Balangan AKBP Dr. Yulianor Abdi, S.H.,S.I.K.,M.H., menyampaikan bahwa kunjungan ini merupakan Program yang sudah direncanakan sejak mulai menjabat sebagai Kapolres Balangan. "Kami berkunjung ke masyarakat merupakan program yang sudah kami rencanakan sejak menjabat sebagai Kapolres Balangan sebagai wujud Polri hadir ditengah - tengah masyarakat untuk memberikan pelayanan, perlindungan dan pengayoman untuk masyarakat" ujarnya dengan sederhana.

Kepala Desa Liyu Bapak Sukri, mengucapkan terima kasih atas kunjungan Kapolres dan jajaran. "Terima kasih banyak, semoga bapak Kapolres dan jajaran selalu sehat dan terus bisa bersilaturahmi ke desa kami," ujar Sukri dengan tulus.

Melalui kunjungan ini, Kapolres Balangan berharap dapat terjalin kemitraan yang positif antara Polri dan Masyarakat, sehingga pengelolaan situasi Kamtibmas dapat lebih mudah dilaksanakan dengan meningkatkan kearifan lokal berupa pengamanan swakarsa seperti ronda malam dan satkamling oleh warga masyarakat.

Minggu, 31 Agustus 2025

Warga Tangkap 2 Orang Diduga Pelaku Penjarahan Markas Gegana PMJ

 

Damkar Jakarta Pusat telah memadamkan kebakaran di Markas Gegana Korps Brimob Polda Metro Jaya di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, terbakar pada Minggu (31/8) sore.

Seorang warga sekitar, Herman, mengatakan sebelum gedung itu terbakar warga melihat ada pelaku penjarahan sedang mengambil benda dari dalam kantor yang tak dijaga itu. 

Warga kemudian mengamankan para pelaku penjarahan itu. Ia menyebut awalnya ada 2 orang yang diamankan. 

"Yang saya tahu katanya sih katanya pulung mau ambil barang besi. Ditarik entah apa mungkin. Ada kabel yang masih aktif kali. Saya bawa laki sama perempuan. Dua cewek, laki satu," kata Herman di lokasi.

Dalam foto yang diterima kumparan dari kepolisian, tampak ada 2 pelaku yang diamankan dari Gedung Gegana tersebut. 

kumparan telah mengkonfirmasi hal ini ke Polres Jakarta Pusat namun belum ada penjelasan. 

Terkait penyebab kebakaran, damkar menyebut dugaan awal penyebab kebakaran adalah puntung rokok.


"Dugaan sementara karena ini tidak ada aktivitas apa pun, ya mungkin ada yang iseng. Karena ini gedung kosong. Banyak kardus dan sebagainya. Mungkin ada yang buang puntung rokok atau yang ini, kita enggak tahu. Yang jelas ada penyalaan," kata perwira piket Sudin Gulkarmat Jakpus, Mulandono. 


Markas Gegana itu sendiri tampak berantakan dipenuhi sampah. Banyak coretan di dinding. Tak ada satu pun polisi di sana yang berjaga.

Menakar Peran Strategis Polri dalam Ketahanan Pangan di Era Hexahelix Governance

Oleh: Pathurrahman (Akademisi Ilmu Politik-Pemerintahan FISIP ULM). KETAHANAN pangan tidak lagi semata soal produksi beras atau luas lahan p...